Selasa, 26 Februari 2008

Ayah, Ibu, ketahuilah, saya juga mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku.....

Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip
dari buku "
Gifts From The Heart for Women" karangan
Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko
buku Gramedia, maupun toko buku lainnya.

Kisahnya sbb :

====================================
Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang
Terbaik Untuk Orang tuanya.
====================================
Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak
laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke
gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim
bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke
bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap
pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di
kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu
hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan
memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola
maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak
mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih
kuliah.

Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan
seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan
itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat
Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan
yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil
yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang
datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam
perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang
biasa dilakukannya pada malam hari.

"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada
ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti
dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya
sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu
memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa
nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya
memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi
dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk
selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka
pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk
tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari
penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian.
Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama,
mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi
anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga
Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke
kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha
menjadi seorang ayah bagi Luke.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu,
Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk
memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya
bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang
ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya.
"Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang?
Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?"

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih
kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam
pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola
dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah
datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan
sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras
dalam beberapa hari ini.

"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian
ditariknya topi merah Luke. "Kamu dapat bermain hari
ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu." Hati Luke
bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore
itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil
melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun
berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga
membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.

Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum
pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah
pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir
lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan,"
katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu
bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang
membuatmu jadi begini?"

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu
mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis
tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih,
ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah
kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan
tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan
itu. Minggu lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali
menangis.

Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan
ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,.......hari ini
adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga
datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama
melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan
mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis
terisak-isak.

Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan
yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai
pemain utama hari ini. Sang pelatih yang
berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia
tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja
itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan
perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua
matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai
seorang anak.....

Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia
sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari
Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha
melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya,
walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............
Luke
baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu
mencintainya........

Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya
masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang
terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka,
membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka.
Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia
akan menyesal seumur hidupnya...............

=========================================
Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang
HANYA berusia 7 TAHUN :

Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk
membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa
kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari
mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu
untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan
seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk
membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan
perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu.

Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu
kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak
berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk
membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ?
Berapakah usia Anda saat ini ?

Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau
kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya.........?
=====================================


Senin, 25 Februari 2008

Arti Sebuah Nama

Nama.. pernahkah kita berfikir kenapa Ortu kita memberi nama kepada kita?
Banyak harapan yg terkandung dr nama kita..
Ini adalah salah satu contoh posting dari tetangga


NAMA UNTUK ANAKKU
By: Mardiana Nurwulan

(Penulis buku “7 Hari Sembuh dari Patah Hati”)
Nyaris setiap saat, selalu saja ada orang yang berkata “Apalah arti sebuah nama…”. Ungkapan ini sudah kudengar sejak puluhan tahun lalu, mungkin juga sebaris kalimat ini sudah ada jauh sebelum aku lahir. Dan situasinya hampir selalu sama; orang yang mengatakan hal ini adalah mereka yang memiliki nama “ala kadarnya” atau yang gagal memberikan nama keren untuk anak-anak mereka. Jadilah ungkapan ini semacam cara jitu untuk menenangkan diri.

Sejak dulu pula, aku termasuk salah satu orang yang tidak setuju dengan ungkapan ini. Bagiku sederhana saja, jika memang nama itu tidak berarti, mengapa pula setiap orangtua menamai anaknya dan setidaknya meluangkan waktu untuk memikirkan nama apa gerangan yang cocok untuk sang anak. Mulai dari nama yang sangat njawani seperti Joko dengan falsafah pemilik nama tersebut adalah seorang Pemuda, Teguh, Kukuh, Baroto, serta nama-nama lain yang tentu saja terselip sebuah makna di sana. Namun, meski nama itu memiliki makna, jika suatu saat sang anak mempertanyakan mengapa dirinya diberi nama yang sangat sederhana dan lazim, orangtua si anak dengan enteng akan menjawab: “Ah, apalah arti sebuah nama…”. Alhasil, sang anak pun surut, dan membenarkan prasangkanya bahwa nama yang dia miliki memang benar-benar tidak bermakna.

Kini, semakin banyak orangtua takut anaknya tidak percaya diri dengan nama yang mereka miliki. Tak heran, nama untuk jabang bayi sudah disiapkan jauh hari sebelum sang anak lahir. Mulai dari nama yang ke-arab-araban, nama yang disesuaikan dengan alkitab, hingga nama yang kebarat-baratan. Hampir semua orangtua mengusung misi yang sama, yakni mencarikan nama yang bagus dan unik untuk anak mereka. Tak heran pula, para pelaku bisnis penerbitan menangkap peluang dari tren terbaru ini dengan meluncurkan buku kumpulan nama. Hasilnya pun lumayan, order dan permintaan atas buku-buku ini selalu saja ada.

Bicara soal nama yang unik, aku jadi teringat dengan nama anak dari salah seorang teman. Temanku ini menamai anaknya dengan Tinru Saklitinov. Nama yang berbau Rusia, padahal ia dan sang isteri Jawa tulen. Kukira ini adalah nama salah seorang tokoh di Rusia, atau Negara lain. Namun ketika kutanya, temanku tadi menjawab enteng bahwa nama tersebut didapat dari singkatan. Yakni Hartini dan Rudi (nama dia dan isterinya) disingkat menjadi Tinru. Sementara Saklitinov didapat dari tanggal lahir sang anak, yakni Sabtu Kliwon Tiga November. Ada-ada saja..

Di kalangan selebritis, tren memberi nama unik agaknya diawali oleh Melly Goeslaw. Ia memberi nama anak pertamanya dengan Anakku Lelaki Hoed. Nama yang sangat unik, bahkan terdengar tidak seperti sebuah nama melainkan kalimat biasa. Aku pun pernah mendengar ada orangtua yang memberi nama anaknya dengan Gempur Soeharto. Mencerminkan semangat reformasi sang orangtua dan sikap anti orde baru. Unik, dan menggelitik.

Tapi, aku memiliki cara pandang sendiri terkait nama untuk anakku, yang insya Allah tiga bulan lagi akan lahir ke dunia. Sebagai calon orangtua di masa kini, tentu aku ingin nama anakku ini bukan nama yang umum di pasaran dan sekadar sok keren. Lebih dari itu, aku ingin nama yang aku dan suamiku berikan padanya nanti, akan membuat anak kami ini percaya diri dan bangga pada orangtuanya. Dan tentu saja, nama yang mengandung doa kami atas dirinya.

Hasil USG menunjukkan bayi kami ini laki-laki. Meski alat buatan manusia bisa saja salah, kami telah yakin bahwa sesosok janin di rahimku ini memang seorang lelaki. Sebuah nama indah pun telah kami siapkan untuknya; SAYA KAYSAR DARMANTO. Berjuta makna dan doa kami selipkan di balik nama ini. Kami ingin, anak pertama kami ini (insya Allah kami pengikut program tiga anak cukup) menjadi seorang pria yang mampu menjadi raja bagi dirinya sendiri, serta calon seorang pemimpin. Setidaknya pemimpin keluarga yang akan dia bangun kelak.
Aku semakin tidak sabar untuk melihat wajah Kaysar-ku ini. Memeluknya dan menenangkannya dari berjuta urusan dunia yang memusingkan.

Kaysar sayang, bunda yakin kau bisa mendengar doa yang selalu ayah dan bunda panjatkan. Kelak, jadilah raja yang bertanggungjawab atas dirimu sendiri, memiliki prinsip, dan tidak diperbudak oleh nafsu dunia. Jadilah kaisar yang sesungguhnya, kaisar yang tahu bahwa dunia hanya cukup kau letakkan dalam genggaman, bukan di hatimu. Jadilah pria yang tampan dan kokoh, sekokoh namamu: Kaysar.